Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Dangdut Academy Indonesia VS Kontes Dangdut Indonesia



,kini merajai program unggulan favorit masyarakat Indonesia melalui D’Academy,kontes dangdut buatan Indosiar. D’Academy,musik dangdut yang awalnya di pandang sebelah mata ini di prediksi akan menuai kegagalan kembali seperti sang pendahulunya sebut saja New AFI 2014 dan The Voice Indonesia yg keduanya merupakan musik pop. Namun ternyata perbedaan aliran musik di antara keduanya membuat acara ini juga berbeda. D’Academy jauh melampaui popoularitas dari The Voice Indonesia dan New AFI 2014. Hal inipun juga terbukti dengan jauhnya ketertinggalan Rating ajang Indonesian Idol yg merupakan ajang unggulan RCTI. Dan ini menandakan bahwa masyarakat indonesia memang lebih mencintai dangdut. Seolah-olah saya ingin menyatakan bahwa tahun 2014 adalah tahunnya dangdut. Popularitas D’Academy pun tak lepas dari canda tawa dari para pemainnya seperti D’T3rong, Ivan Gunawan yang membuat acara ini berbeda daripada yang lain, sehingga para penontonnya pun bisa tertawa,yang lagi pada galau jadi berhenti galaunya,yang lagi ada masalah ketika nonton D’Academy seolah-olah jadi hilang masalahnya karena terhibur dari acara ini. Terakhir ketika saya melihat urutan rating D’Academy mampu tebus angka rating melebihi 6 dan share melebihi 25, suatu pencapaian yang luar biasa menurut saya. Selang beberapa hari kesuksesan D’Academy, MNCTV rupanya juga tak mau ketinggalan. KDI, kontes musik dangdut pertama di Indonesia ini akan segera mengundara di layar kaca. Pernah terbesit di hati saya, mungkin karena kesuksesan D’Academy jadi KDI juga ikut-ikutan tayang. Kita lihat saja nanti apakah rating dan share KDI mampu melampaui D’Academy. Satu hal yang menurut saya luar biasa dari KDI tahun ini karena menampilkan juri yang berkualitas seperti Bertha, Jaja miharja, Ikke nurjannah dan si ratu dangdut indonesia Elvy sukaesih.


dangngdut tak pernah mati. Tapi dangdut juga bisa perlahan-lahan mati jika tak dikelola dengan benar. Pengelolaan yang tidak benar itu antara lain menyangkut ruh Melayu yang belakangan disia-siakan. Dangdut masa kini tidak meliuk-liuk lagi pelafalannya, melainkan diwakili goyang badan ala Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) di sela-sela tetabuhan yang hingar bingar.
MNCTV tampaknya ingin mengulang sukses Kontes Dangdut Indonesia (KDI) tatkala stasiun itu masih berbungkus nama TPI. Bukan sukses menelurkan penyanyi-penyanyi yang kemudian jadi simpanan wakil rakyat, pemimpin partai, atau birokrat, melainkan melahirkan penyanyi-penyanyi dangdut yang tak sekadar mahir goyang bokong.
Namanya tetap KDI. Formatnya hampir sama dengan KDI musim 1 hingga 6 (KDI terakhir, musim keenam, digelar 2009). Ada babak audisi yang dihelat di enam kota, Makassar, Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Surabaya, pertengahan dan akhir Maret lalu, hingga medio April 2014.
Setelah melalui audisi dan praaudisi, saat sekarang peserta mengerucut hingga tinggal 36 dalam babak Gerbang Nusantara. Ke-36 peserta tersebut diangkut dari enam kota, masing-masing 6 kontestan. Baru nanti setelah diperas lagi dalam Gerbang Nusantara, muncul 14 terbaik yang bertarung di Babak Kontes. Nanti malam, disiarkan langsung dari Studio 4 MNCTV, akan bertanding 6 kontestan masing-masing Ika (audisi Jakarta), Dahlia (Surabaya), Hera (Makassar), Dimas (Medan), Uwi dan Koko (Bandung).
KDI dengan bungkus MNCTV ini punya spirit dan performa yang berbeda dibanding D’Academy Indosiar. Mungkin terinspirasi Indonesian Idol yang wajahnya dewasa, KDI melakukan promosi yang gencar, mirip Indonesian Idol sebelum masa audisi, yakni melibatkan para pedangdut senior macam Ikke Nurjanah, Kristina, Uut Permatasari, Erie Susan, dan Inne Cintya dalam acara promo. Bahkan lulusan KDI juga ikut nimbrung untuk meyakinkan khalayak bahwa ajang ini tidak main-main.
Tidak seperti D’Academy yang format panggungnya lebih mirip pentas rakyat ala YKS — terdapat pula sederet juri yang tidak kapabel dan terus menerus saling cemooh dengan MC, hampir setiap malam, serta melibatkan latarbelakang penyanyi yang kelewatan porsinya sehingga acara ini mirip “Oh Mama Oh Papa” — KDI MNCTV mewarisi KDI TPI yang cara menampilkan penyanyi lebih ‘manusiawi’, dengan format pentas ala Indonesian Idol yang megah dan berwibawa.
1398323804688401267

Juri-juri di KDI merupakan sosok expert di bidangnya, Elvy Sukaesih, Ikke Nurjanah dan Jaja Miharja mewakili penyanyi senior, serta Bertha dan Purwacaraka yang mewakili pakar vokal dan musisi. Bandingkan dengan juri-juri D’Academy yang ‘rapuh’ lantaran ada Saipul Jamil dan Ivan Gunawan. Ipul hanya menjadi sansak hidup bagi host, dan Ivan yang desainer itu apa relevansinya menjadi juri lomba menyanyi?
Bukan bermaksud membela MNCTV, tetapi saya mencoba membawa spirit “mencerdaskan bangsa” ketika menyinggung dua ajang yang sama, di stasiun berbeda. Terhadap D’Academy, tak keliru bila saya menyandingkannya dengan acara-acara berantakan dan hampir tanpa konsep macam Yuk Keep Smile. Atau Indosiar memang sengaja menjiplaknya lantaran acara seperti itu sedang digandrungi rakyat pinggiran?
Kepada pengelola KDI MNCTV saya sarankan, tetaplah dengan format yang berwibawa dan tak memalukan, meski program KDI ini harus merangkak dari nol sebab kontes dengan nama sama telah terkubur sejak empat tahun silam, dan meski pula nyawa yang diusung adalah dangdut. ****



Tahun 2014 mungkin tahun keberuntungan bagi Indosiar. Itulah yang terpikirkan oleh saya pada saat ini. Setelah bertahun-tahun berkutat di level terendah pertelevisian indonesia, kini akhirnya Indosiar bak di atas angin. Kandasnya rating ajang pencarian bakat New AFI 2014 dan The Voice Indonesia rupanya tak menyurutkan Indra Yudistira yang merupakan direktur produksi untuk tetap menayangkan ajang pencarian bakat yang baru di jam prime time. Mungkin di beberapa stasiun televisi di jam prime time lebih banyak mengedepankan sinetron sebagai program unggulan mereka, kini Indosiar menemukan formula baru yang berbeda. Musik dangdut yang akhir-akhir ini agak tenggelam gaungannya kini merajai program unggulan terfavorit melalui D’Academy Indonesia yang ditayangkan Indosiar. Seolah-olah orang tak percaya,tapi begitulah kenyataannya. Kalau kita melihat di awal-awal penayangannya, rating D’Academy hanya mampu menembus 15 besar dari seluruh program televisi. Namun perlahan tapi pasti rating D’Academy setiap harinya mengalami peningkatan rating dari awalnya 15 besar menuju ke 10 besar,kemudian bergeser lagi ke 5 besar dan akhirnya memuncaki rating menjadi program unggulan terfavorit nomor 1 dari seluruh program televisi yang di tayangkan. Berkat D’Academy juga Indosiar sekarang menjadi stasiun televisi nomor 1 di indonesia. Masyarakat indonesia rindu dengan irama dangdut yang akhir-akhir ini tenggelam dengan banyaknya sinetron yang muncul setiap hari di televisi. Kalau menurut saya acara yang paling seru di tonton rame-rame itu hanyalah acara dangdut dan sepak bola. Kedua acara ini mampu membius penontonnya hingga pelosok-pelosok negeri. Kalau acara lain sebut saja sinetron,palingan satu televisi ada satu atau dua orang yang menonton. Lain halnya dengan dangdut dan sepak bola. Kedua acara ini,satu televisi mampu membuat penonton lainya berdatangan ikut menonton. Acara ini juga mampu menjadi acara nonton bareng favorit keluarga,nonton bareng besar-besaran di komplek perumahan, depan gang, pinggir jalan hingga perkotaan. Untuk indosiar selamat atas kreatifitasnya yang mampu membuat penontonnya kembali melirik Indosiar dan tetap lah cari formula baru agar penontonnya tetap mencintai Indosiar...CONGRATULATION






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Posting Komentar